Entah sudah hari ke berapa sejak premiere, saya baru nonton film Habibi-Ainun ini tadi siang bersama salah satu sahabat saya. Dan baru kali ini juga tidak ada perasaan ‘lega’ di hati saya seperti film-film yang pernah saya lihat sebelumnya. Tujuan saya menuliskan ini bukan untuk menyudutkan atau bagaimana, hanya saja saya hanya ingin mengungkapkan beberapa kekecewaan saya terhadap film genre cinta ini dari kacamata saya sebagai penikmat film.
Seperti yang kita tau, film ini berangkat dari novel true story, menceritakan tentang perjalanan cinta Habibi-Ainun, dengan berlokasi di dua negara, Jerman dan Indonesia. Namun ada beberapa hal yang membuat saya janggal dan ingin saya tuliskan di sini, yaitu munculnya beberapa produk iklan di sela-sela scene yang tidak tepat pada tahunnya dan menurut saya cukup mengganggu. Pertama yang saya lihat adalah produk sirup di scene tahun 1950an, ternganga awalnya but it’s oke laah, mungkin jaman dulu udah ada sirup kali’ yaa. Kedua, muncul produk salah satu kosmetik era 2009, tapi muncul di scene tahun 1998. Haa?? Zaman segitu mah belum modern banget kali’, apalagi kosmetik. Trus muncul juga iklan ‘card’ mini market ternama. Dan terakhir ada produk salah satu wafer cokelat, apalah namanya. Memang sih, namanya saja sponsor kudu dipake’, minimal dimunculkan produknya, tapi kudu tau ‘realita’ juga dong. Kalo asal gitu kan penonton juga nggak ‘penuh’ untuk meresapi gambaran di masa lalu. Kenapa nggak dimunculkan aja semua produk iklan itu di scene tahun 2010 aja biar lebih ‘ngena’.
Kejanggalan saya berikutnya adalah laptop yang dipake’ Reza Rahardian pemeran Habibi itu udah microsoft 2007. Kenapa nggak berawal dari mesin ketik aja gitu di tahun jadul kayak gitu.. Kejanggalan lainnya adalah kacamata yang dipake’ Habibi dan Ainun saat pelepasan pesawat, terlalu modis, seperti kacamatanya Syahrini. Kenapa nggak pake’ kacamata era 90′an aja. Dan yang bikin geregetan lagi adalah ketika scene ibu Ainun sedang operasi, seenggaknya diliatin adegan operasi’nya sedikit laah, keliatan lampu operasi atau tim operasinya, biar lebih deg-deg serr.
At least, film ini recommend dan layak tonton, karena cerita ini based on true story Pak Habibi dan ibu Ainun, dengan akting Reza Rahardian yang totalitas banget dalam memerankan tokoh Habibi. Ekspresi, logat, bahasanya yang ‘dapet’ banget. Akting BCL juga oke-lah.. Penonton disuguhkan dengan pemandangan di Jerman, bagi yang belum pernah jalan ke luar negeri, minimal pernah liat di film lah yaa termasuk saya haha
Ending dari film ini juga bener-bener sedih, sampe’ sahabat saya itu sesenggukan dan bertisu ria
Pesan dan kesan yang bisa ditangkap dari film ini, yaitu tentang cinta sejati *ehm* untuk saling menjaga, menyayangi dan membahagiakan apapun keadaannya. Kekurangan di film ini yaah seperti yang sudah saya sebutkan di atas tadi.
Saya hanya berharap, semoga Indonesia bisa lebih totalitas lagi untuk mengorbitkan film-film berikutnya. Apalagi kalo’ berdasarkan kisah nyata seperti Habibi dan Ainun ini, sayang banget kalo’ cuma flat aja dan penonton cuma dapet sedih doang
Yah, ini hanya pendapat saya saja. Mohon maaf bila ada readers yang tidak sepaham dan kiranya ada kata-kata yang kurang berkenan di hati. Semoga tidak mengurangi minat readers untuk tetap mencintai produk negeri. Maju terus perfilman Indonesia
Tak perlu seseorang yg sempurna, cukup temukan orang yg selalu membuatmu bahagia & membuatmu berarti lebih dari siapapun -Habibi Ainun-
Anggi

Aku baru nonton semalam overall aku suka cuma ada beberapa kejanggalan yang sangat disayangkan di film itu kayak iklan beberap produk gk penting bgt dimuat d film itu jd mengurangi taste film itu
iyaapp bener banget…. iklannya sangat mengganggu dan nggak pas sama tahunnya… Lebih baik membaca novel’nya saja, saya rasa lebih menghayati..
overall bagus actingnya cuma itu iklannya itu loh!! ampun banget mending taruh setelah akhir filmnya hehehe
just opinion sih